Tentang Printmaking


Printmaking atau teknik cetak grafis tidak ubahnya seperti proses penciptaan karya yang lain, adalah sebuah proses kreatif yang di dalamnya melibatkan selain keahlian para seniman, juga banyak material dan beragam teknik bergantung pada tingkat kompleksitas, kebutuhan, dan juga ketersediaan material.


Teknik cetak grafis sebagai disiplin ilmu adalah cabang seni rupa yang fokus pada proses artistik pemindahan gambar dari sebuah bidang (matriks/klise) ke permukaan yang lain (kertas, kain, dll.).



Tidak hanya terbatas pada pendalaman teknis cetak, namun juga mencakup eksplorasi materi dan medium, konsep, isu sosial yang memungkinkan pendistribusian pesan visual baik secara masif ataupun terbatas.


Sebagai disiplin ilmu, teknik cetak grafis terbatas pada pendalaman tentang teknis cetak, tapi juga mencakup eksplorasi materi dan medium, konsep, dan isu sosial yang memungkinkan pendistribusian pesan visual secara masif sebagai media promosi atau bahkan propaganda dan/atau secara terbatas sebagai bentuk rilis koleksi sebuah karya.


Kehadirannya yang seringkali dikolaborasikan dengan disiplin keilmuan lain seperti ilustrasi, fotografi, desain, dan seni kontemporer menjadikannya tetap relevan dan sangat penting dalam kancah senirupa dalam skala lokal mau pun internasional.

Mengenal istilah “Print”.


Dalam konteks pengkaryaan secara definitif menurut pemahaman kami, “Print” atau “Art Print” adalah sebuah bentuk reproduksi (penggandaan, penciptaan ulang) dari sebuah karya (lukis, fotografi, gambar, desain, dsb.). Print juga bisa diartikan sebagai produk dari proses printmaking yang dikerjakan secara manual, seperti intaglio, serigrafi/sablon, litografi ukiran pada kayu atau batu, dan sebagainya. Para pelaku dan pegiat seni cetak ini umumnya disebut printmaker atau seniman cetak grafis.


Setiap hasil cetakan dari proses printmaking biasanya tidak sepenuhnya identik, ini dikarenakan adanya pengaruh intervensi manual (penintaan dan tekanan cetak). Faktor eksternal seperti misalnya suhu dan kelembaban ruangan juga bisa sangat mempengaruhi pori kertas yang bisa mengakibatkan susut dan mengembangnya kondisi kertas dari ukuran aslinya. Kertas yang tidak terjaga suhu dan kelembabannya bisa berakibat perubahan ukuran kertas yang walaupun dalam skala milimeter, bisa mempengaruhi ketidakpresisian hasil cetak (cetakan bergeser) terutama pada proses cetak multi-warna.


Proses cetak saring | https://www.familyindustries.com/


Hasil cetak akhir dari proses printmaking kemudian dibubuhi penulisan nomer urut dan jumlah cetakan di kiri bawah, dan tanda tangan seniman di kanan bawah. Proses yang dikenal dengan nama editioning ini dimulai pada akhir abad ke-19 yang menjadi tradisi dan standar sampai hari ini untuk mengidentifikasi urutan tiap edisi karya dan total jumlah cetakan yang dirilis, serta penandatanganan/signing oleh seniman yang berfungsi sebagai autentikasi tiap edisinya. 


Proses signing | http://oldtowneditions.com


Proses editioning | https://tandempress.wisc.edu/printmaking/


Selain penomoran edisi, ada berbagai mark/penanda yang digunakan oleh printmaker atau studio cetak untuk membedakan cetakan tertentu di luar edisi yang dirilis. Berikut yang paling umum dijumpai.


A/P., P.A., atau E.A.

(Artist Proof, Prueba de Artista atau Epreuve d’artist)

Jika seniman membuat edisi untuk dealer/pihak kedua, seniman dapat menyimpan beberapa edisi untuk penggunaan pribadi di luar edisi yang dirilis oleh pihak kedua. Ini adalah bagian dari edisi dan dijaga dengan standar yang sama tetapi diberi label A/P untuk Artist Proof, atau secara tradisional E.A. yang merupakan padanan bahasa Prancis. Standarnya adalah hanya 10%-15% dari total edisi yang dirilis.


P/P, P.I. atau E.I.

(Printer’s Proof, Prueba de Impresor atau Epreuve d’imprimeur)

Ini adalah proof yang disimpan oleh printmaker atau studio cetak sebagai dokumen pengarsipan dan biasanya hanya satu.

https://www.metmuseum.org/


Tentang teknik Printmaking


Perbedaan teknik yang mendasar pada printmaking dapat diklasifikasikan berdasarkan materi yang digunakan. Peralatan yang digunakan bisa berupa kayu, metal, batu, kain, dan sebagainya. Juga berdasarkan teknik yang digunakan baik itu manual dan/atau menggunakan cairan kimia dalam prosesnya. 


Tinta yang digunakan dalam prosesnya juga sangat beragam komposisinya bergantung dari pengaplikasian materi pada metode cetak yang digunakan.


Untuk intaglio dan litografi, digunakan tinta yang sedikit berminyak untuk memenuhi afinitas tembaga atau bagian batu yang ditarik. Dalam serigrafi atau sablon, akan digunakan tinta pekat yang bersifat menutup pori-pori yang kemudian dipadukan dengan berbagai warna untuk menghasilkan hasil yang cenderung vibrant.

WOODCUT (CUKIL KAYU)


Sebuah metode seni cetak tertua, ukiran kayu/woodcut adalah proses relief di mana pisau dan alat lain digunakan untuk mengukir desain ke permukaan balok kayu. Area yang menonjol setelah balok dipotong diberi tinta dan dicetak, sedangkan area yang cekung yang dipotong tidak menyimpan tinta, dan akan tetap kosong pada hasil cetakan akhir.



Balok kayu biasanya terbuat dari kayu pir, yang digergaji searah serat dan dihaluskan. Balok kemudian dikeringkan untuk mengurangi kadar air dalam kayu, yang mencegah perubahan bentuk dan retak. Ukuran balok kayu ditentukan oleh gambar, tetapi pada akhirnya dibatasi oleh ukuran mesin cetak. Ini berarti bahwa untuk cetakan skala besar, beberapa balok dipotong dan dicetak secara terpisah, setelah itu gambar dirakit. Balok yang lebih kecil cenderung tidak retak karena usia atau tekanan yang diberikan padanya selama proses pencetakan. Ketebalan balok juga penting untuk kemudahan penggunaan dan pencegahan keausan; ketebalan ideal sekitar satu inci.



Samson Rending the Lion

Albrecht Dürer ca. 1497–98

Ukuran medium: 16 in. × 11 7/8 in. (40.6 × 30.2 cm)


ENGRAVING


Engraving adalah proses pencetakan intaglio di mana garis-garis diukir pada pelat logam untuk menampung tinta. Dalam teknik ini, pelat dapat terbuat dari tembaga atau seng.



Pelat logam pertama-tama dipoles untuk menghilangkan semua goresan dan ketidaksempurnaan dari permukaannya sehingga hanya garis-garis yang diinginkan yang akan tercetak. Saat membuat ukiran, pembuat cetakan menggores atau memotong komposisi langsung ke permukaan pelat logam menggunakan alat tajam, yang dikenal sebagai burin: poros baja yang berujung pada ujung berbentuk berlian yang dipasang pada gagang kayu bundar.


Liz Zanis (Seorang Amerika, b1980). Practice Cloud, 2018. 



Christ Carrying the Cross

Martin Schongauer ca. 1475–80

Ukuran medium: 11 3/8 × 16 7/8 in. (28.9 × 42.9 cm)

ETCHING / ETSA


Teknik cetak dengan etsa adalah proses pencetakan intaglio di mana garis atau area diukir menggunakan asam ke dalam pelat logam untuk menampung tinta. Dalam pengukiran dengan etsa, pelat dapat terbuat dari besi, tembaga, atau seng.



Untuk mempersiapkan pelat untuk proses etsa, pertama-tama pelat dipoles untuk menghilangkan semua goresan dan ketidaksempurnaan dari permukaannya. Setelah permukaannya benar-benar halus, permukaan tersebut dilapisi secara merata dengan lapisan pernis atau lilin tahan asam, yang disebut lapisan dasar (ground).



Menggunakan pena tumpul yang disebut jarum etsa, pembuat cetakan dengan lembut menggores bagian-bagian lapisan dasar mengikuti desain, sehingga memperlihatkan logam di bawahnya.




Setelah seluruh desain digambar ke dalam lapisan dasar, asam dituangkan ke atas pelat atau pelat dicelupkan ke dalam asam.


Asam hanya mengikis logam di area yang terpapar, menciptakan lekukan yang dapat menahan tinta. Kedalaman dan lebar lekukan ini ditentukan oleh lamanya waktu pelat terpapar asam: paparan yang lebih lama akan menyebabkan lekukan yang lebih dalam dan lebih lebar, yang menampung lebih banyak tinta dan dengan demikian akan mencetak garis yang lebih gelap di atas kertas.


Proses ini dapat digunakan untuk menciptakan palet tonal yang bernuansa. Untuk menciptakan nada yang lebih gelap, area tertentu dapat direndam dalam asam beberapa kali, sementara area yang lebih terang dilindungi dari pengikisan asam lebih lanjut dengan menutupinya dengan lapisan dasar. Setelah pelat tersebut terkikis dengan baik oleh asam, pembuat cetakan menghilangkan lapisan dasar dengan pelarut.



Setelah lapisan dasar dihilangkan, pelat siap untuk diolesi tinta. Dalam proses intaglio, tinta tertahan di garis-garis yang digoreskan. Bola kain, potongan karton, atau bahan yang setara digunakan untuk menyebarkan tinta secara perlahan ke seluruh permukaan pelat; bahan yang sama digunakan untuk menghilangkan sebagian besar tinta berlebih dari permukaan. Pelat dibersihkan lebih lanjut menggunakan kain tarlatan (kain kasa yang diberi banyak pati).


Setelah permukaan pelat dibersihkan hingga tingkat yang memuaskan, pelat diletakkan di atas alas mesin cetak rol, dengan sisi tinta menghadap ke atas. Meskipun beberapa cetakan intaglio awal tampaknya dihasilkan hanya dengan menekan kertas ke pelat dengan tangan, dalam kebanyakan kasus tekanan yang diperlukan untuk memaksa kertas masuk ke dalam garis-garis yang dipotong halus memerlukan penggunaan mesin cetak khusus yang dilengkapi dengan rol.



Sebelum pelat digerakkan melalui mesin cetak, pelat tersebut ditutupi dengan selembar kertas yang dibasahi dan kemudian selimut cetak, yang seringkali terbuat dari kain felt, untuk mengurangi tekanan pada pelat logam.


Setelah dicetak pada kertas penyangganya, desain etsa muncul terbalik dari aslinya pada pelat. Tekanan mesin cetak tidak hanya memaksa tinta ke kertas yang lembap, tetapi juga menghasilkan garis luar tepi pelat logam pada kertas, yang dikenal sebagai plate mark.


Liz Zanis (American, born 1980). Little Towel, 2018


LITOGRAFI


Litografi adalah proses pencetakan planografis di mana sebuah desain digambar di atas batu datar (atau pelat logam yang telah disiapkan, biasanya seng atau aluminium) dan direkatkan melalui reaksi kimia.



Pertama, desain untuk litografi digambar langsung di atas lempengan batu kapur yang dipoles menggunakan krayon atau tinta litografi berbasis minyak.



Setelah desain selesai, batu siap untuk diproses atau diukir. Lapisan bubuk rosin digosokkan ke batu, diikuti oleh lapisan bubuk talk.



Kemudian, gom arab, atau kombinasi gom arab dengan larutan asam ringan, dioleskan ke batu. Reaksi kimia antara larutan dan batu akan merekatkan gambar berminyak yang digambar dengan krayon litografi berbasis minyak. Pada saat yang sama, larutan tersebut memastikan bahwa area kosong pada batu akan menyerap air dan menolak tinta cetak.



Gambar asli kemudian dihapus dengan pelarut, yang dikenal sebagai litotin, yang meninggalkan jejak samar gambar pada batu.



Untuk memberikan dasar bagi proses pencetakan, lapisan aspal kemudian dipoleskan ke seluruh permukaan batu dan dibiarkan kering.


Sebelum batu siap dicetak, batu dibasahi dengan air, yang hanya diserap di area yang kosong. Tinta kemudian dioleskan ke batu dengan rol. Tinta berbasis minyak menempel pada area berminyak pada gambar dan ditolak oleh bagian batu yang lembap. Proses pembasahan dan pencetakan batu diulangi hingga seluruh gambar tercetak dengan sempurna.



Batu diletakkan dengan gambar menghadap ke atas pada mesin cetak litografik flatbed, dan selembar kertas lembap diletakkan di atasnya.


Batu dan kertas ditutupi dengan papan, yang juga disebut tympan, dan terkadang beberapa lembar kertas koran sebagai bantalan untuk mesin cetak. Mesin cetak flatbed dilengkapi dengan batang penekan. Batang ini, yang biasanya berukuran hampir sama dengan gambar, diturunkan ke tympan dan batu, dan diseret melintasi permukaan yang berminyak saat melewati mesin cetak. Batang penekan menjamin penerapan tekanan yang halus dan merata di seluruh permukaan batu.


Setelah batu dimasukkan ke dalam mesin pres, hasil cetakan pada kertas menampilkan gambar terbalik dari komposisi asli yang digambar di atas batu.


Liz Zanis (American, born 1980). Lunch, 2018.


SCREENPRINT/SABLON


Sablon adalah proses di mana tinta dipaksa melewati saringan jala ke permukaan. Dengan membuat area tertentu pada saringan kedap tinta cetak, tercipta stensil yang menghalangi tinta cetak melewati saringan. Tinta yang melewati saringan kemudian membentuk gambar yang tercetak.



Screen/kain/layar cetak terbuat dari kain jaring halus yang diregangkan dengan kuat dan dipasang pada bingkai logam atau kayu. Secara tradisional, kain ini terbuat dari sutra, tetapi saat ini sebagian besar terbuat dari bahan sintetis seperti terylene.



Stensil—yang dapat terdiri dari berbagai macam bahan, termasuk kain, cat berminyak, atau desain pada lembaran transparan—dapat diaplikasikan ke layar dengan berbagai cara: menempatkannya langsung di permukaan screen, melukisnya di layar, atau dengan mentransfer desain ke screen menggunakan emulsi fotosensitif.



Transfer desain pada lembaran transparan atau film Mylar ke emulsi fotosensitif adalah metode kontemporer yang paling umum untuk mempersiapkan screen. Desain dapat dibuat dengan salah satu atau kombinasi dari cara-cara berikut: digambar tangan dengan tinta buram atau dicetak pada lembaran transparan, atau dipotong dari rubilit, yaitu film penutup ultraviolet.



Untuk memindahkan desain dari transparansi, screen terlebih dahulu dilapisi dengan lapisan tipis emulsi fotosensitif menggunakan alat pelapis (scoop coater), yaitu wadah logam dengan tepi yang bersih dan rata.


Setelah emulsi mengering, desain ditempatkan di screen.


Layar kemudian ditempatkan di unit pemaparan yang memancarkan sinar ultraviolet (UV). Saat unit pemaparan dinyalakan, desain akan menghalangi sinar UV yang mengeraskan emulsi di sekitar gambar.



Emulsi yang tertutup oleh desain tetap lunak dan kemudian dicuci dari screen, sehingga desain tetap berada di screen.



Setelah disiapkan, screen ditempatkan pada engsel yang terpasang pada papan atau meja sablon, yang memiliki engsel di bagian atas dan lubang di permukaannya yang memungkinkan vakum untuk menahan selembar kertas di tempatnya selama pencetakan. Lapisan tinta tebal diaplikasikan di sepanjang bagian atas bagian dalam layar dan kemudian ditarik secara merata melintasi gambar menggunakan rakel/squeegee, proses yang dikenal sebagai "membanjiri layar."



Selembar kertas kemudian diletakkan di bawah layar, dan dengan sekali lagi menggunakan squeegee, tinta didorong melalui area layar yang tidak terhalang oleh stensil. Hasil cetakan mengikuti arah matriks.



Apabila dibutuhkan lebih dari satu warna, printmaker harus mengulangi proses tersebut menggunakan stensil yang berbeda untuk setiap warna. Untuk menjaga agar warna-warna dalam komposisi tetap sejajar, printmaker harus mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan registrasi yang tepat antara lembaran kertas dan layar cetak.


---



AARON HORKEY: TREMORS HAVE CEASED

Medium: 5.75 x 12"

Sablon 13 warna di atas kertas cotton Crane Lettra Fluorescent White

Tulisan ini dibuat secara garis besar atas latarbelakang banyaknya miskonsepsi artprint yang dilihat hanya sebatas sebagai bentuk salinan, outdated, tidak berharga dan hanya dipandang sebagai cetakan di lembar kertas yang siapapun dapat dengan mudah melakukannya. Padahal pada praktiknya, dibutuhkan keahlian khusus dan pemahaman tinggi mencakup material dan teknik yang dikerjakan.


Setiap print merupakan hasil dari bertahun-tahun proses riset, trial-error, pengembangan teknik dan eksekusi yang disempurnakan oleh keterampilan artistik dari seorang printmaker.


Disadur dari berbagai sumber online terutama mengenai penjabaran yang berkenaan dengan disiplin keilmuan dan teknis terperinci, dituliskan ulang ke dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan pengamatan, opini, dan pengalaman yang bersumber pada arsip koleksi pribadi.


https://www.metmuseum.org/perspectives/series/materials-and-techniques

https://en.wikipedia.org/wiki/Printmaking

https://www.christies.com/en/stories/prints-collecting-guide-d124c574d3964888a44aad990494ad4a

https://www.printgonzalez.com/hellbox/2018/4/3/printmaking-101-series-a-guide-editioning-and-signing-fine-art-prints

https://www.lecoindesarts.com/en/print-definition

https://burlesquedesign.com/

https://tandempress.wisc.edu/printmaking/

http://oldtowneditions.com